Wednesday, December 18, 2013

HOME » , » Membangun Kesadaran Dalam Diri Kader dalam Upaya Mengembalikan Citra HMI

Membangun Kesadaran Dalam Diri Kader dalam Upaya Mengembalikan Citra HMI

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam setiap organisasi khususnya HMI kader memiliki peran sentral, dimana kader sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang sesuai dengan Tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwjudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan lima kualitas insan cita dan bersifat independen dalam rangka mengemban amanah organisasi.

Para kader HMI harus mampu megidentifikasi dan merumuskan berbagai jawaban atas tantangan-tantangan yang ada; berorietasi jangka panjang, senantiasa meningkatkan kualitas SDM (dengan penguasaan atas iptek dan memiliki kualitas imtak), sehingga peran para kader HMI betul-betul mampu dirasakan oleh segenap elemen bangsa yang lain. Para kader HMI harus tetap menjadi “manusia pembelajar”  rendah hati dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menguasai teknologi, senantiasa cerdas dan mampun berbuat sekecil apapun bagi masa depan umat dan bangsa Indonesia secara lebih baik.

Dalam keseharian kader, pola fikir dan mentalitas harus menjadi sorotan. sehingga daya dorong HMI terhadap persoalan, tergambar pada penyikapan kader yang memiliki keberpihakan pada kaum tertindas serta memperjuangkan kepentingan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan penindas.

Arah Pengkaderan HMI

Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitas atau kegiatan HMI dikembangkan pada penggalian potensi kualitatif pribadi dan anggota–anggota yang militan, memiliki kedalaman pengetahuan dan keimanan, serta mempunyai kesetiaan pada organisasi.

Arah pengkaderan HMI tercermin dalam tujuan HMI, yaitu terbinanya individu yang memiliki kualitas insan cita  (akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT).

Kualitas inilah yang harus dimiliki oleh setiapa kader HMI dan menjadi gambaran masa depan anggota HMI, suksesnya anggota HMI dalam membina diri untuk mencapai kualitas insan cita berarti dia telah mawujudkan tujuan HMI.
Inilah yang menjadi arah pengkaderan HMI yang selalu dikupas dalam setiap trining dan aktivitas .

Sifat Independensi HMI

Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sendiri sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan “Hakikat dan Mission“ organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Watak independensi HMI  yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan polalaku setiap kader HMI akan membentuk independensi etis HMI, sementara watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi  HMI akan membentuk independensi organisatoris HMI.
Sifat independen sesuai dengan amanah konstitusi HMI dirasa masih mampu mengawal pergerakan HMI di masyarakat ketika setiap kader HMI memahami denan benar makna Independen dan menjalankannya dengan hati yang ikhlas dan tulus. Berawal dari deteksi masalah di atas dalam upaya membentuk kader yang tangguh dan tanggap dalam rangka menyelesaikan hal–hal di atas penulis tertarik mengangkat masalah “Membangun Kesadaran dalam diri Kader HMI akan sifat Independensi  HMI dalam upaya mengembalikan citra HMI”.

B.       Identifikasi Masalah

Sesuai dengan judul Membangun Kesadaran dalam diri Kader HMI akan sifat Independensi  HMI dalam upaya mengembalikan citra dan Idealisme HMI , berkaitan dengan judul tersebut maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah upaya  membangun kesadaran dalam diri kader HMI  untuk mengembalikan citra HMI
2.      Bagaimanakah metode membangun kesadaran dalam diri kader HMI akan sifat independensi .

C.      Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah:
1.      Pengaruh membangun kesadaran dalam diri kader HMI dalam upaya mengembalikan citra HMI
2.      Metode membangun kesadaran dalam diri kader HMI akan sifat independensi.



D.    Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut , masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.   Bagaimana deskripsi pengaruh membangun kesadaran dalam diri kader HMI dalam upaya mengembalikan citra HMI
2.       Bagaimana deskripsi metode membangun kesadaran dalam diri kader HMI akan sifat independensi dilakukan.




























BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengaruh Membangun Kesadaran dalam Diri Kader HMI dalam Upaya
    Pengembalian Citra HMI

Kondisi dan Citra HMI dewasa ini

Ketika HMI didirikan taun 1947, anggota HMI hanya 15 orang, cabang belum ada, apalagi komisariat, badan koordinasi dan sebagainya berupa aparat yang lazim disebutkan dewasa ini. Namum perkembangannya cukup menanjak, khususnya selama 13 tahun, 1950–1963; baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Terlebih– lebih dari tahun 1964–1965, reputasinya menanjak tinggi, namanya tenar, bukan hanya dikalangan mahasiswa dan kaum terpelajar saja. Tetapi dikenal di segenap lapisan masyarakat, bukan hanya di indonesia, bahkan di luar negeri. Mengapa demikian, karena ulah PKI dan simpatisan-nya, yang ingin membubarkan HMI. Inilah jasa terbesar PKI, CGMI, Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, HSI, dan organisasi masa PKI lainnya, maupun antek- anteknya, yang tergabung dalam persekongkolan jahat, yang telah dipopulerkan HMI.
Bukan karena semata-mata digayang PKI, HMI menjadi besar dan populer. Kebesaran dan kepopuleran HMI datang dari situasi dan kondisi dari tubuh HMI sendiri. HMI tidak akan bertambah kerdil atau besar karena digayang dan mau dibubarkan oleh PKI dan barisan lainnya. Organisasi ini besar karena bekerja tanpa pamrih untuk nusa bangsa dan agama. Indikator itu bisa ditelusuri dari alur perjalanan sejarahnya.

Pertama, kondisi organisasi HMI yang telah merata di kota Perguruan Tinggi. Kedua, dalam tingkatan sekarang ini HMI sudah mencapai tingkatan organisasi modern, walaupun tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan. Ketiga, peranan pemuda, mahasiswa dalam kehidupan suatu negara adalah besar dan menentukan. Hal ini bisa disaksikan dalam moment-moment sejarah bangsa Indonesia tahun 1908, 1928, tahun 1945 dan tahun 1966. Keempat , pemikiran dan perjuangan HMI relevan dengan dimensi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Kelima, Aktivitas HMI berorientasi untuk kepentingan anggotanya dan masyarakat luas. Keenam, secara fisik memiliki lebih dari 150.000 anggota.

Prospek HMI

Patut dikaji dan direnungkan bahwa masa depan yang cerah dan gemilang itu tidak akan datang begitu saja. Tetapi masa depan yang cerah dan gemilang itu baru bisa dicapai tergantung kepada pengemudi kendali organisasi sejak dari pengurus komisariat, koordinator komisariat, cabang, badan koordinasi , pengurus besar, bahkan anggota dan alumni HMI seluruhnya. Dengan belajar dari pengalaman sejarah yang panjang sebagai guru terbaik dari suatu perjuangan. HMI jangan berorientasi kepada masa lalu, sambil berapologi, senantiasa harus berorientasi kepada masa depan, yang secara riel terbentang dan terhampar luas di hadapan kita.

Masa depan yang cerah harus diciptakan oleh HMI itu sendiri dengan kerja keras, tekun, ulet, tabah, penuh kesadaran dan kesabaran, berencana dan teratur, Citra tunggal yang positif HMI harus diciptakan. Dengan kata lain HMI harus dapat berakar di hati bangsa Indonesia , dan melekat di hati ummat. Menjadi patnership dari pemerintah dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang konstruktif menuju masyarakat adul makmur yang diridhoi Allah SWT, berdasarkan pancasila dan undang-undang 1945 secara murni dan konsekwen.

Oleh sebab itu langkah yang harus dilakukan sedini mungkin antara lain :
1.      Membina dan menegakkan orisinalitas sejarah dan pemikiran HMI
2.      Membiasakan berpikir otonom secara HMI
3.      Melakukan konsolidasi organisasi secara berkesinambungan, sebagai masalah dan pekerjaan besar sepanjang masa
4.      Pembentukan kader dan aktivis yang tangguh dan tanggap
5.      Setiap anggota HMI adalah yang berprestasi dalam bidang studi, dan sukses dalam berorganisasi
6.      Memasyarakatkan terus pemikiran HMI
7.      Mau belajar dari pengalaman sejarah yang panjang
8.      Bersikap teguh dalam prinsip luwes dalam penerapan
9.      Mau mengoreksi diri sendiri dan dikorekri orng lain
10.  Meningkatkan partisipasi aktif dan konstuktif HMI terhadap pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di segala bidang
11.  Bekerja sama dengan semua pihak sepanjang tidak menyalahi prinsip-prinsip pedoman organisasi HMI
12.  Mengkonsolidasikan keberhasilan dan kemenangan yang sudah dicapai
13.  Mengadakan evaluasi secara terus menerus terhadap apa saja yang telah diperbuat, untuk menetapkan kebijakan guna melangkah lebih maju.
14.  Tidak cepat puas terhadap apa yang telah diperoleh
15.  Perbanyak dan tingkatkan amal ibadah kepada Allah SWT . ( Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia )

Citra organisasi harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Menjaga citra HMI sebagai organisasi terbesar dan terbaik merupakan sebuah tantangan yang cukup berat, karena HMI sudah melahirkan ribuan kader dengan sengala plus minusnya.

Menjaga citra membutuhkan komitmen tinggi. Namun demikian perlu disadari bersama citra yang baik akan memberi daya tarik dan kebanggaan tersendiri, karena disadari atau tidak, cerita–cerita miring yang dialami oleh kader dan alumni HMI dalam menjalankan aktivitasnya telah ikut serta menurunkan kebanggaan ber-HMI dan minat menjadi anggota HMI dikalangan mahasiswa dan pemuda. Harus diciptakan citra tunggal bukan ganda untuk HMI kedepannya.

B. Metode Membangun Kesadaran dalam Diri Kader HMI akan Sifat   
     Independensi HMI

Konsekuensi pencantuman sifat HMI sebagai organisasi yang independen dalam Konstitusi HMI memrlukan suatu penjelasan untuk dijadikan pedoman dalam perjuangan Naskah Tafsir Independensi HMI memuat empat bagian. Pertama, Pendahuluan yang menerangkan bahwa menurut fitra kejadian, manusia itu diciptakan dalam keadaan bebas dan merdeka. Oleh karena itu HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersikap independen. Kedua, status dan fungsi HMI, yang memilih watak dan sifat kepeloporan, kekaderan, yang berfungsi sebagai agent “of social change”. Ketiga, sifat independensi HMI, yang merupakan sifat organisasi, maka implementasinya perlu diwujudkan dalam bentuk sikap-sikap sebagai penjabaran, yaitu;
1. Cenderung kepada kebenaran ( Hanif )
2. bebas , merdeka , dan terbuka
3. objektif , rasional dan kritis
4. progresif dan dinamis
5. demokratis , jujur , dan adil

Keempat, peranan HMI dimasa depan. Kader HMI merupakan investasi manusia yang besar dan berarti, yang dimasa mendatang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai bakat dan profesinya. Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak, dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Konsekuensinya bahwa aktivis, fungsionaris, dan kader HMI harus memiliki lima kualitas insan cita.

Pemikiran lain yang bisa dilihat dari sifat independensi HMI adalah karena kemajemukan bangsa Indonesia, yang ditandai dengan banyaknya agama, partai politik, yang beraneka ragam coraknya, suku, daerah, kebudayaan. Untuk menghadapi masyarakat yang pluralistik seperti itu HMI harus independen, agar dapat berdiri tegak di tengah-tengah bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya.

Dari berbagai sudut pandang , baik dari dalam dan terlebih lagi dari luar, HMI sering disebut tidak Independen, atau telah bergeser sifat independensinya. Kritik yang tajam itu pula tidak membuat HMI bergeser dari pendiriannya untuk tetap tegak, bahwa HMI adalah organisasi yang independen sejak awal berdirinya, sekarang, dan yang akan datang.

Untuk dapat mempertahankan makna Independen dalam diri setiap kader HMI dan dapat menjadi karakter setiap kader HMI di setiap aktivitasnya maka perlu adanya metode penyampaian tafsir independensi di setiap training agar dapat dipahami dan diamalkan, metode yang dirasa bisa maksimal adalah metode belajar mandiri.

Belajar mandiri adalah metode khas belajarnya orang dewasa, meskipun asil yang optimal akan terwujud justru sikap belajarnya dilakukan dengan gembira dan tanpa beban.

Beberapa ciri belajarnya orang dewasa yang dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri
1.      Kegiatan belajar bersifat self directing mengarahkan diri sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain
2.      Pertanyaan–pertanyaan yang timbul dalam proses pembelajaran dijawab sendiri atas dasar pengalaman
3.      Tidak mau didekte guru, karena mereka tidak mengharapkan secara terus– menerus
4.      Orang dewasa mengaharapkan penerapan dengan segala dari apa yang dipelajari
5.      Lebih senang dengan partisipasi aktif dari pada fasif mendengarkan ceramah
6.      Selalu memanfaatkan pengalaman yang telah dimiliki, karena sebagai orang dewasa mereka tidak datang dengan kepala kosong untuk belajar
7.      Lebih menyukai belajar melalui tukar menukar pengalaman dengan sesama orang dewasa atau saling berbagi tanggung jawab
8.      Perencanaan dan evaluasi belajar lebih baik dilakukan dalam batas tertentu anatara guru dan pembelajar
9.      Belajar harus berbuat, tidak cukup hanya mendengkan dan menyerap

Dengan metode membangun kesadaran dengan menggunakan cara belajar orang dewasa dimungkinkan lebi efektif, dan nilai nilai yang terkandung dalam Tafsir Independensi HMI akan melekat dalam diri kader sampai menjadi alumni nanti.




















BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan
Dalam Membangun Kesadaran Dalam Diri Kader HMI akan Sifat Independensi  HMI dalam Upaya Mengembalikan Citra HMI dibutuhkan suatu metode pelatihan yang harus didasarkan dengan kesadaran dari dalam diri sendiri bukan paksaan dari orang lain, sehingga sifat independensi yang ingin diperoleh akan tercapai .

B.     Saran
Sebagai organisasi pengkaderan yang bersifat independen , dirasa metode- metode yang dilakukan sedah tidak relevan dangan perkembangan bangsa Indonesia oleh sebab itu dibutuhkan metode pelatihan yang baru . Demi tercapai kader HMI yang berkualitas insan cita.















DAFTAR PUSTAKA

Sitompul, Agussalim, 1986, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta, Integrita Dinamika Press.
Solichin, 2010, HMI Candradimuka Mahasiswa, Jakarta, Sinergi Persadatama Foundation.
Sulastomo, 2008, Kapita Selekta The Indonesian Dream, Jakarta, Kompas.
Konstitusi HMI hasil Kongres Depok, 2010.

Mujiman Haris, Manajemen Pelatihan berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta. Pustaka Belajar


Artikel Terkait LAH:

0 comments:

Post a Comment

Salam Ukhuwah, setelah baca tulisan Insan Cita Kom. LAH jangan lupa tinggal jejak dengan berkomentar di bawah ini yah kawan. YAKISA, Yakin Usaha Sampai.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...